jump to navigation

Sekilas Tentang Ibu Hamil Sakit Kuning April 23, 2008

Posted by drandalas in Seputar Kehamilan.
trackback

Kita sangat takut dengan infeksi yang disebabkan oleh HIV/AIDS, yang kasusnya semakin meningkat di Indonesia, bahkan telah dijumpai kasusnya di Aceh. Sedangkan menghadapi sakit kuning yang mempunyai tingkat risiko hampir sam a dengan HIV dianggap biasa-biasa saja. Seorang penderita sakit kuning(hepatitis), apakah pria atau wanita berisiko menularkan penyakit kuning pada bayi atau petugas kesehatan. Penyakit hepatitis B masih termasuk penyakit yang perlu diwaspadai karena risiko komplikasi terhadap penderita bila tidak dapat sembuh sempurna, diperkirakan 5 sampai 10 persen orang terinfeksi virus hepatitis B akan menjadi carrier, seterusnya sekitar 25 sampai 30 persen dari carrier kronik diprediksikan akan meninggal akibat komplikasi penyakit virus hepatitis.
Kematian pada kelompok carrier diperkirakan akibat komplikasi virus menjadi kanker hati (primer hepatoselular carsinoma). Pada daerah endemic Hepatitis B virus (HBV), diperkirakan 20 persen penduduk kemungkinan akan menjadi pembawa virus kronis. Seorang wanita hamil dengan carrier kronis berpotensi untuk menurunkan/menularkan pada anak/bayi. Kita tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila seorang ibu pembawa penyakit kuning kronis hamil, sang ibu dan dokter tidak tahu, dan tidak diberikan profilaksis, sehingga berpeluang menurunkan ke bayi mencapai 70 – 90 persen. Karena tingginya risiko menurunkan pada bayi dan infeksi pada petugas kesehatan maka sudah selayaknya upaya pencegahan infeksi virus hepatitis melalui skrining/penapisan virus hepatitis B pada wanita hamil atau pranikah perlu ditingkatkan, lebih lagi kalau kita berada didaerah yang dikategorikan endemic virus tersebut.

Virus hepatitis B ditemukan diseluruh dunia tetapi beberapa regional digolongkan daerah endemic virus hepatitis B yakni Asia dan Afrika sehingga upaya penapisan di daerah endemic perlu lebih ketat. Virus hepatitis B merupakan DNA hepadnavirus yang menjadi penyebab utama hepatitis(radang hati) akut, dan ganguan hati sangat serius yang dikenal dengan sirosis kronis dan hepatobiliar carcinoma.
Masa inkubasi virus hepatitis 1 sampai 6 bulan. Virus hepatitis dianggap karsinogen kedua setelah rokok penyebab kanker pada manusia. Menurut Laporan Centre of Desease Control(CDC) selama tahun 1990-1998 terjadi penurunan insiden sampai 50 persen kasus hepatitis B dari beberapa tahun sebelumnya. Penyakit Hepatitis B hanya 50 persen saja yang menimbulkan keluhan radang akut dan tanda kuning sedangkan sebagian lainya tidak menampakkan keluhan dan keadaan ini sangat berbahaya karena dapat menularkan pada kelompok lain. Diperkirakan diseluruh populasi dunia ada sekitar 1 juta orang bersifat carrier kronik.
Upaya penapisan penyakit kuning (hepatitis B) yaitu dengan melakukan skrining imunologis penyakit hepatitis B yang bisa dilakukan kapan saja. Ada beberapa petanda yang bias diperiksa untuk melihat apakah seseorang terinfeksi virus hepatitis B, antara lainpemeriksaan core antigen(HBcAg), surface antigen (HBsAg),dan antigen (HBeAg). Semua antigen virus dapat dideteksi sesuai konsentrasi partikelnya dalam serum atau cairan tubuh.
Hepatitis B virus sangat sering di jumpai pada kelompok penggguna obat jarum suntik, homoseksual, pekerja kesehatan dan para penerima transfusi darah (bila darah tanpa penapisan). Selain itu bisa juga akibat terinfeksi melalui hubungan seksual misal dari saliva air ludah, dan cairan vagina. Seseorang bisa dikatakan terinfeksi dengan ditemukan HBsAg pada serum ibu. Pada Kasus tertentu pemeriksaan awal bisa saja memberi hasil negative akibat munculnya antigen ini sangat bervariatif kasus perkasus, Akan tetapi test HBsAg biasanya akan memberikan hasil positif pada minggu ke 4 setelah infeksi, jauh hari sebelum timbul keluhan/tanda klinik pada ibu tersebut..

Titer HBsAg akan menurun dengan hilangnya keluhan, dan biasanya pada fase ini akan ditemukan titer HBsAb, yang berarti penderita aman, karena berarti tidak sebagai carrier. Umumnya orang terinfeksi virus hepatitis ini 90 persen akan sembuh sempurna. Ada kalanya seseorang hanya dikatakan hepatitis secara klinis saja sebab hasil pemerikasaan HBsAg dan HBsAb serum negative. Seseorang bisa diprediksikan menjadi kronis hepatitis B atau menjadi carrier bila ditemukan HBsAg seropositif selama 20 minggu atau lebih. Bila kadar HBsAg seropositif tetap ada menunjukkan adanya aksi replikasi virus hepatitis.

Permasalahan yang akan timbul pada seseorang ibu hamil yang terinfeksi hepatitis B adalah risiko terjadi kelahiran prematur, sehingga harus diberikan terapi suportif demi mencegah lahir bayi premature. Penyebaran virus hepatitis B transplasenta pada janin hanya terjadi pada infeksi hepatitis akut. Bila seorang ibu mengalami infeksi akut dengan kehamilan trimester pertama, sekitar 10 persen risiko bayi akan terinfeksi akan tetapi bila terjadi saat trimester akhir kemungkinan menularkan ke bayi relative tinggi yakni sampai 90 persen.
Risiko penularan pada anaknya semakin tinggi bila serum ibu HBsAg dan HBeAg positif. Penyebaran Virus hepatitis B selain transplasenta juga melalui makanan, kontak material saat persalinan dan pemberian ASI. Seorang ibu dengan test serum HBsAg dan HBeAg positif sangat besar kemungkinan menurunkan infeksi pada bayi. Kebanyakan bayi yang dilahirkan dari ibu yang bersifat carrier titer HbsAg bayi negatif saat lahir dan baru terjadi perubahan 3 bulan kemudian. Seorang Ibu bila serum HbsAg positif tetapi negatif titer HBeAg berarti ibu masuk kedalam kategori risiko rendah

Pencegahan infeksi pada neonatus/janin dari ibu yang positif hepatitis serum perlu sangat diperhatikan, CDC pada tahun 1990 memperkirakan sekitar 18.000 bayi di AS dilahirkan dari kelompok ibu dengan HBsAg positif, tanpa diberikan profilaksis imunologi saat pesalinan, berarti sekitar 4000 bayi akan berpotensi menjadi Carrier kronis hepatitis B. Pada seorang ibu yang terdeteksi terinfeksi kronik hepatitis B. prevensi yang bisa dilakukan dengan pemberian imunglobulin hepatitis B segera bayi lahir dengan dosis 0,5 ml Intra muskuler dan pemberian vaksin hepatistis B pada usia bayi 1 bulan dan saat bayi usia 6 bulan.
Maka sebaiknya pada kelompok ibu risiko tinggi hepatitis B harus dilakukan skrining serum ibu. Orang digolongkan kelompok risiko tinggi antara lain, penduduk di Asia, sub Sahara dan Afrika,ada riwayat infeksi akut atau kronik penyakit hati, pegawai atau pasien hemodialisis, sering mendapat transfuse darah, riwayat kontak dengan penderita HBV, pernah terkena penyakit kelamin dan pengguna narkoba dengan jarum suntik.

Pemerikasaan skrining HBsAg ini sebaiknya dilakukan pada semua wanita hamil sesuai anjuran dari American College of Obstetric and Gynecoogist (ACOG 1998), lebih lagi untuk negara yang masuk endemic area dan sosio ekonomi rendah alias banyak penduduk miskin seperti negara kita. Pada beberapa penelitian yang dilakukan terhadap skrining darah ibu hamil seperi yang dilakukan Webb dkk tahun 1996, dari 7700 kasus didapat prevalen 0,85 persen positif hepatitis B. Pada kelompok ibu hamil dengan risiko tinggi walaupun antigen serum negative sebaiknya diberikan vaksin saat hamil walaupun seroproteksi pada ibu hamil lebih rendah dibandingkan wanita tidak hamil.

Hal lain yang perlu juga diperhatikan untuk menghindari penyebaran virus hepatitis B bagi orang lain misal penolong persalinan. Seorang penolong pesalinan pada seorang ibu melahirkan dengan positif terinfeksi hepatitis B (HBsAg +) atau kelompok risiko tinggi, yaitu dengan melakukan proteksi ganda, antara lain dengan memakai sarung tangan ganda, memakai kaca mata pelindung, gunakan jarum suntik yang disposable, alat medis yang dipakai dipisahkan dan alat medis lain dengan sebelumnya dilakukan dekontaminasi dengan merendam dicairan klorin 0,5 persen sebelum dilakukan pencucian alat medis tersebut.
Para Ibu hamil juga sudah saatnya membuka diri menyampaikan pada dokter/petugas kesehatan bila ,mempunyai riwayat sakit kuning, apalagi bila tempat melakukan pemeriksaan hamil tidak melakukan penapisan. Pada kelompok risiko tinggi alangkah baiknya demi pencegahan penularan pada orang lain atau petugas medis berilah informasi yang benar pada dokter anda untuk persiapan persalinan yang aman.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: