jump to navigation

AWAS, Operasi Caesar berisiko lahirkan bayi gagal nafas April 23, 2008

Posted by drandalas in Uncategorized.
trackback

Dalam dekade ini sangat banyak ibu yang tergoda melahirkan dengan operasi Caesar karena berbagai alasan, bisa dengan alasan kosmetik sehingga alat reproduksi tetap orisinal, bisa karena alasan takut sakit atau bisa juga akibat ditakutkan oleh tenaga medis atau para medis, dengan berbagai kemungkinan alasan yang dapat dibenarkan secara teori, yang sebenarnya belum tentu terjadi pada kasus kehamilan tersebut. Hal –hal tersebut sangat banyak terjadi baik di negara maju maupun di negara berkembang dan umumnya hal ini berhubungan dengan malpraktek. Karena itu sudah sebaiknya para calon ibu dan bapak harus sangat hati-hati bila merasa ada sesuatu keraguan dalam keputusan baik itu dari tenaga paramedis maupun tenaga medis, bila ini terjadi salah satu solusinya adalah dengan mencari pendapat pembanding(second opinion.)

Operasi Caesar selalu penuh dengan risiko baik terhadap ibu maupun bayi yang dilahirkan, selain itu dengan tindakan operasi Caesar khususnya yang tanpa alasan(indikasi) akan mempersempit peluang untuk lahir normal pada kehamilan berikutnya. Salah satu komplikasi yang ditakutkan adalah sindroma gagal nafas pada bayi yang dilahirkan, tulisan berikut akan dapat memberikan wawasan pada kita terhadap salah satu risiko tersebut.
Bayi yang dilahirkan dengan operasi Caesar terencana berisiko tinggi dengan masalah komplikasi saluran pernafasan bila dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan secara normal atau pun yang dilahirkan dengan operasi Caesar emergensi, demikian hasil riset yang dilakukan Dr Anne Kirkeby Hansen, dari Rumah Sakit Universitas Aarhus, Denmark, yang dilansir Britis Medical Journal Desember 2007 lalu. Sebenarnya beberapa penelitian terdahulu juga sering didapatkan bayi yang lahir dengan operasi terencana sulit bernafas dan biru, akan tetapi mereka masih sulit untuk mencari apa factor penyebabnya. Penelitian yang dilakukan Dr Anne dengan kawan-kawan membuat suatu kesimpulan bahwa bayi yang dilahirkan tanpa melalui suatu proses persalinan alamiah, sudah tentu dalam darahnya tidak mengandung hormone hormone yang lazim dikeluarkan saat terjadi proses persalinan, hal inilah yang menjadi kunci menurut mereka penyebab tingginya risiko sindroma gagal nafas, mereka menduga adanya hormone-hormon yang keluar dan beredar dalam darah ibu saat proses persalinan membantu proses pematangan paru sang bayi.
Mereka juga menyimpulkan perbedaan risiko sindroma gagal nafas yang akan terjadi pada kelompok ibu melahirkan anak dengan operasi tanpa dimulai adanya proses persalinan dengan kelompok ibu yang melahirkan bayi melalui proses persalinan terlebih dahulu. Penelitian secara kohort selama 9 tahun ( January 1998-Desember 2006), terhadap kelompok ibu yang melahirkan dalam usia kehamilan 38 sampai 41 minggu, dalam penelitian tersebut di teliti sebanyak 34.458 orang bayi. Dalam penelitian tersebut dilihat tentang keluhan sesak nafas, apakah sesak yang bersifat sementara, seperti sindroma gawat pernafasan dan hipertensi pulmonal yang menetap, atau adanya komplikasi pernafasan yang serius yang membutuhkan terapi oksigen lebih 2 hari dan membutuhkan peralatan khusus. Ibu yang melahirkan dengan operasi terencana, tinggi risiko terjadi komplikasi sindroma gagal pernafasan sampai 3,9 kali. Semua ibu hamil yang melahirkan ini termasuk dalam kategori kelompok ibu hamil sehat( risiko rendah). Umumnya indikasi operasi yang dilakukan berhubungan dengan masalah kesehatan ibu, presentasi anak dan riwayat melahirkan sebelumnya dengan operasi Caesar.
Dari 34.458 bayi yang lahir selama 9 tahun tersebut, 2687 bayi lahir dengan operasi Caesar atau hanya 7,8 persen, sedangkan yang lahir dengan operasi Caesar emergensi dengan pengertian sesudah melalui proses persalinan tetapi tidak ada kemajuan bermakna sebanyak 2877 kasus (11,9%) dan bayi yang lahir pervaginam sangat banyak sejumlah 28894 kasus atau 83,5 persen. Dari semua bayi yang lahir hanya 604 (1,8%) bayi mengalami komplikasi sindroma gagal nafas dan sebanyak 64 bayi dengan komplikasi serius (0,2%). Kalau kita melihat usia kehamilan saat tindakan operasi, ternyata makin muda usia kehamilan diputuskan untuk tindakan operasi Caesar terencana makin tinggi risiko terjadi sindroma gagal nafas, misal bayi yang dilakukan operasi saat usia kehamilan 37 minggu, 3,9 kali berisiko gagal nafas bila dibandingkan bayi yang dilahirkan saat usia kehamilan 39 minggu, yang mana kemungkinan berisiko 1,9 kali.terjadi gagal nafas
Semua bayi yang mengalami komplikasi tersebut, tidak berhubungan dengan adanya komplikasi lain seperti adanya air ketuban keruh dan warna hijau, bayi dengan infeksi dan pneumonia(radang paru). Penelitian tersebut juga menyimpulkan bayi yang lahir secara normal atau telah diawali adanya proses rasa sakit persalinan jauh lebih kecil risiko terjadi keluhan sindroma gagal nafas tersebut, bila dibandingkan dengan operasi melahirkan tanpa indikasi jelas (hamil dengan risiko rendah).

Dari ilustrasi penelitian tersebut, maka sebaiknya seorang ibu perlu memikirkan dengan matang dan dewasa bila ingin memilih suatu tindakan operasi Caesar bila tiada alasan atau indikasi yang jelas, mengingat risiko komplikasi gagal nafas bagi bayi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan proses persalinan normal. Keuntungan lainnya dari ibu yang melahirkan secara normal adalah ibu segera dapat melakukan aktifitas rumah tangga dan terhindar dari risiko infeksi luka operasi. Operasi Caesar sebenarnya hanya diperuntukkan bagi kelompok wanita yang mengalami kendala dalam proses melahirkan secara normal, baik kendala itu pada ibu maupun kendala dari factor bayi. Akan tetapi frekuensi untuk tindakan operasi tersebut tidak akan jauh melebihi dari angka 15 persen dari kelahiran normal.
Perlu diingat, sebenarnya bentuk tubuh wanita itu telah demikian komplit desainnya diberikan oleh Allah, kita lihat saja bagaimana otot-otot atau jaringan dalam jalan lahir yang akan mengalami perubahan saat proses persalinan akibat adanya hormone relaksin, selanjutnya hormone ini juga memberi peluang merenggangnya sendi-sendi panggul seorang ibu yang membuat mudahnya bayi keluar. Secara umum wanita ingin melahirkan secara natural, dan berhak menentukan jenis persalinan yang diinginkan akan tetapi tugas tenaga medis/paramedic untuk memberi penjelasan proses persalinan dengan benar sehingga pasangan tersebut menjadi tenang Walaupun komplikasi masalah gagal nafas tersebut bisa diatasii dengan kemajuan teknologi alat bantu nafas dan kemajuan dipihak pediatric, akan tetapi perlu diingat perlakuan khusus ini tentu membutuhkan dana yang relative lebih banyak dan berisiko meningkatkan angka kesakitan bagi sang bayi.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: