jump to navigation

Infeksi toksoplasma pada kehamilan May 29, 2008

Posted by drandalas in Uncategorized.
trackback

Masih Banyak masyarakat belum jelas masalah risiko yang ditimbulkan seorang wanita hamil akibat parasit toksoplasma gondi. Toksoplasma berisiko menimbulkan penyakit pada manusia dan hewan ternak, setelah seseorang terinfeksi dengan parasit toksoplasma yang masuk dalam tubuh, melalui feses hewan, atau makan daging binatang yang terinfeksi dengan toksoplasma. Komplikasi pada wanita dalam usia reproduksi sering dihubungkan dengan keguguran atau bayi lahir cacat. Dengan memahami pertumbuhan parasit ini dan habitat dari parasit ini akan sangat membantu dalam menekan rasa ketakutan setiap wanita hamil tentang parasit ini.

Parasit toksoplasma cenderung untuk masuk ke dalam sel organ (intrasel) tubuh manusia dan terdapat dalam tiga bentuk, yaitu bentuk trofozoit yang beredar dalam darah, bentuk ookista yang dikeluarkan dalam tinja kucing, dan bentuk kista yang menetap dalam jaringan tubuh seperti paru, jantung, otot, dan otak. Bentuk kista berupa sebuah kantung yang di dalamnya berisi beribu-ribu trofozoit T gondii. Kucing adalah tempat hidup utama parasit toxoplasma,parasit ini dapat berkembang biak secara seksual maupun aseksual. Adapun dalam tubuh manusia, unggas dan hewan ternak lain sebagai hospes perantara, parasit ini berkembang biak secara aseksual, yaitu kemampuan untuk berkembang biak dengan cara membelah diri.

Di tanah yang tercemar, ookista(toxoplasma) dapat dibawa oleh lalat, kecoak, semut atau cacing tanah ke berbagai tempat di kebun. Ookista dapat menempel di sayuran, buah-buahan atau termakan oleh hewan ternak seperti ayam, kambing, anjing, sapi, dan menembus epitel usus, berkembang biak dengan membelah diri serta menetap dalam bentuk kista pada organ hewan tersebut.

Bentuk parasit T gondii seperti batang melengkung dengan ukuran lebih kecil dari sel darah merah (3-6 mm) bergerak dengan gerakan aktinomisin di bawah membran plasma, dapat menembus sel secara aktif masuk ke berbagai jaringan seperti otot, otak, mata, dan usus. Kucing yang menderita toksoplasmosis akan mengeluarkan beribu-ribu ookista yang tetap infektif selama berbulan-bulan di tanah yang tidak terkena sinar matahari.

Ookista yang tertelan akan membentuk trofozoit dan ikut aliran darah serta memasuki sel berinti organ tubuh atau membentuk kista. Manusia dapat terinfeksi bila tertelan ookista atau makan daging ternak seperti ayam, kambing atau sapi yang mengandung kista dan tidak dimasak matang.

Secara umum, infeksi Toxoplasma tidak menunjukkan gejala klinis sehingga diagnosis terhadap penyakit ini sering terabaikan dalam praktik dokter sehari-hari. Umumnya, penderita hanya merasa demam ringan, lemas, mual, dan pembesaran kelenjar getah bening. Infeksi parasit ini pada manusia sehat tidak menyebabkan sakit berat karena sistem kekebalan tubuh dapat menghancurkan parasit ini. Pada keadaan di mana terjadi penurunan kekebalan seperti pada penyakit AIDS, pemakaian kortikosteroid jangka lama, dan penderita keganasan dengan kemoterapi, maka parasit yang semula diam dalam bentuk kista dapat pecah dan tiba-tiba mengganas serta mematikan.

Pada seorang wanita hamil, infeksi toksoplasma berisiko menyebabkan keguguran (abortus), lahir mati, atau cacat bawaan seperti kebutaan (retinokoroiditis), hidrosefalus, meningoencephalitis(radang otak), tuli, pengapuran otak,retardasi mental, kejang-kejang, dan gangguan neurologis lainnya. Biasanya tanda-tanda radang otak(encephalitis) dan serebral palsi berkembang dalam beberapa hari sampai sebulan setelah bayi lahir. Risiko seorang ibu hamil yang terinfeksi akut dengan toksoplasma menurunkan infeksi pada bayi bila tidak segera mendapat pengobatan sangat variatif,. Pada kehamilan trimester pertama risiko penurunan 25 persen, trimester kedua 54 persen dan 65 persen pada trimester ketiga.

DIAGNOSA toksoplasma dapat ditegakkan dengan mengidentifikasi parasit di sekresi jaringan, cairan tubuh atau adanya peninggian titer antibodi yang sangat tinggi sampai delapan kali. Pada kasus-kasus terbatas dan hanya menggunaan test tunggal dengan peninggian titer antibodi IgM, seseorang sudah dikatakan terinfeksi akut toksoplasma . Walaupun secara klinis diagnosis penyakit ini sulit ditegakkan, tetapi dapat mudah diketahui apakah seseorang bebas dari penyakit, sedang sakit atau telah kebal, melalui pemeriksaan darah terhadap antibodi Toxoplasma dengan teknik Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Pemeriksaan darah seperti ini dapat dilakukan di banyak laboratorium kesehatan, sayangnya biayanya cukup mahal, sehingga pemeriksaan ini benar-benar dilakukan pada kelompok wanita yang berisiko tinggi, seperti kelompok wanita yang memelihara kucing, suka makan daging tidak matang, dan adanya abortus ataupun ada riwayat kematian janin dalam rahim.

Pencegahan. Secara umum sebenarnya infeksi parasit ini dapat dihindarkan dengan cara hidup bersih seperti mencuci tangan sebelum makan atau saat selesai kerja di kebun, memasak atau memanggang daging sampai matang, dan mencuci sayur atau buah sebelum dimakan. Pencegahan ini sangat penting dilakukan oleh wanita yang hamil, mengingat risiko menurunkan infeksi pada bayinya. Penting pemeriksaan darah terhadap kemungkinan infeksi penyakit ini pada masa pranikah atau sebelum kehamilan bagi kelompok yang mampu, karena penyakit ini dapat diobati sehingga dampak negatif seperti keguguran, lahir mati atau cacat setelah lahir dapat dihindari . Tidak dianjurkan pemeriksaan skrinig toxoplasma secara masal mengingat biaya relatif tinggi dan masih tingginya hasil positif palsu dari laboratorium. Hindari para wanita hamil makan daging yang tidak dimasak matang

Pengobatan, pengobatan pada ibu infeksi akut toksoplasma diberikan antibiotika spiramycin yang diikuti pyrimetamin dan sulfadiazine, pemberian antibiotika bertujuan menurunkan risiko menurunnya infeksi pada jabang bayi. Sebaiknya pada wanita yang terinfeksi diperiksa juga Protein C Reaktif(PCR) dari cairan amnion , untuk menilai adakah infeksi pada bayinya. Bila Test PCR positif pengobatan cukup dengan pirymthamin dan sulfadiazine, sedangkan bila tes PCR negatif spyramicin dilanjutkan untuk mencegah risiko infeksi lanjutan bagi bayinya.

About these ads

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: